Waspadai Perangkap Israel Pasca Kasus Freedom Flotilla
Skenario Zionis Israel yang menyerbu armada FF itu, seolah pesan agar masyarakat dunia jera menembus blokade
Oleh Musthafa Luthfi*
KASUS serbuan armada kemanusiaan untuk warga Gaza, Freedom Flotilla (FF) akan dicatat sebagai salah satu upaya kemanusiaan bersama manca negara tanpa memandang agama, ras dan aliran dalam memerjuangkan kemanusiaan di salah satu dudut belahan dunia yang mengalami pelecehan kemanusiaan tiada tara dalam sejarah umat Manusia.
Kasus serbuan oleh Komando khusus pasukan Zionis pada 31 Mei lalu di perairan internasional itu atas kapal sipil Mavi Marmara yang menewaskan sedikitnya 9 orang aktivis kemanusiaan yang sebagian besar adalah warga Turki, juga sekaligus mengetengahkan bukti baru atas arogansi dan kebrutalan negeri Zionis yang selama ini selalu luput dari hukum internasional.
Kebuasan Zionis nampak dari aksi brutal yang sama sekali menyamakan antara menyerbu kapal perang dengan kapal penumpang biasa yang membawa warga sipil termasuk di dalamnya adalah kalangan petinggi/pemuka manca negara seperti anggota parlemen.
Mungkin para pemimpin Zionis beranggapan bahwa aksi brutal tersebut sama dengan aksi-aksi brutal dan holocaust sebelumnya atas warga Arab, dimana negeri Yahudi itu selalu bisa lolos dari jeratan hukum internasional karena memang pemerintah dunia Arab "tidak kuasa" menghadapi tekanan AS. Namun kali ini, masyarakat dunia nampaknya tidak akan tinggal diam.
Bagi warga Palestina dan umat Islam umumnya, menaruh harapan besar kepada Turki untuk tidak membiarkan darah aktivis kemanusiaan dalam armada FF sia-sia tanpa berhasil menyeret otak intelektual dan pelaku serangan di perairan internasional yang jelas-jelas melanggar hukum internasional. Atau minimal pengaruh dari gugurnya para syuhada kemanusiaan dan gaung hujatan masyarakat dunia adalah berakhirnya embargo zalim sepihak Zionis atas sekitar 1,8 juta warga Gaza yang hidup dalam penjara terbesar di dunia sepanjang sejarah.
Memang banyak publik dunia bahkan publik Arab sendiri sangat kecewa dengan respon “dingin” dunia Arab di tingkat resmi. Bahkan sidang darurat Liga Arab di tingkat Menlu setelah peristiwa tersebut tidak menunjukkan “nyali” seperti yang diperlihatkan Turki kepada negeri Zionis karena meskipun para menlu Liga Arab sepakat tentang perlunya mengakhiri embargo atas Gaza namun keputusan itu terkesan tidak jelas sebab tidak adanya mekanisme pencabutan embrago dimaksud.
Namun sikap "dingin" tersebut bagi umat Islam seharusnya tidak perlu disedihkan apalagi merasa kecewa berat sehingga menimbulkan keputusasaan. Justeru kenyataan ini membuktikan bahwa isu Palestina adalah isu umat Islam bahkan umat manusia secara keseluruhan bila melihat para pejuang kemanusiaan manca negara dalam armada tersebut lalu hujatan masyarakat dunia yang demikian meluas terutama di Eropa yang pernah terlibat langsung mendirikan negeri Zionis yang menjadi penyakit kanker yang bukan hanya di dunia Arab tapi bagi umat manusia sedunia.
Sedianya skenario Zionis Israel yang terkesan memaksakan menyerbu salah satu kapal armada FF itu, adalah ingin membuat masyarakat dunia jera sehingga tidak akan ada lagi usaha untuk menembus blokade ke Gaza setelah serbuan brutal itu. Itulah gambaran yang ada dalam benak para pemimpin Zionis sehingga berani menyerang kapal sipil yang berada di perairan internasional.
Para aktivitis sejak persiapan hingga berlayar menuju Gaza memang sudah menduga bahkan memastikan bahwa Angkatan Laut (AL) Israel pasti akan menghalanginya menuju ke Gaza begitu masuk dalam teritorial negeri Yahudi itu. Namun yang tidak terdetik dalam benak mereka adalah serbuan brutal yang menewaskan banyak aktivis tersebut.
Seperti biasa, banyak alasan yang dikemukakan para pemimpin Zionis diantara mempertahankan diri, karena aktivis bersenjata dan berusaha menyerang pasukan komando Israel atau sebagian aktivis adalah teroris. Tapi Menlu Turki, Ahmet Davutoglo secara telak membeberkan kedustaan tersebut di hadapan DK PBB (1/6) dengan mengatakan "kita telah bosan dengan dalih kedustaan Israel setiap melakukan kejahatan tertentu" sambil menyebut serbuan tersebut aksi bandit dan bajak laut.
Alhasil skenario Zionis tersebut yang sedianya bertujuan membuat jera para aktivis kemanusian manca negara dapat dikatakan gagal total. Bahkan beberapa hari setelahnya muncul penantang baru lewat kapal Rachel Corrie yang berlabuh dari Irlandia. Nama kapal tersebut diberikan dari nama aktivis wanita AS yang tewas dilindas bolduser Israel pada 23 Maret 2003 saat mempertahankan rumah warga Palestina yang akan dihancurkan oleh bolduser tersebut di kota Rafah, Palestina.
Memang armada kemanusiaan telah mengorbankan sedikitnya 9 aktivis yang sebagian besar dari Turki dan puluhan lainnya luka-luka. Tapi dibalik itu, Palestina berhasil meraih simpati bahkan bukan sebatas simpati dari 70 juta lebih rakyat Turki sebagai garda terdepan membela isu Palestina yang menjadi isu sentral dunia Islam tersebut setelah sekian lama negeri bekas pusat Kekhalifahan Otoman itu melihat sebelah mata Palestina akibat persekutuannya dengan Zionis Israel
Paling tidak pernyataan PM Turki, Recep Tayyip Erdogan setelah peristiwa berdarah itu mewakili aspirasi rakyat Turki. "Israel harus memahami bahwa memang hubungan kita kuat namun permusuhan kita juga kuat. Bila seluruh masyarakat dunia membelakangi (tidak peduli) Gaza maka kami bangsa Turki tidak akan membelakanginya."
Oleh Musthafa Luthfi*
Kasus serbuan oleh Komando khusus pasukan Zionis pada 31 Mei lalu di perairan internasional itu atas kapal sipil Mavi Marmara yang menewaskan sedikitnya 9 orang aktivis kemanusiaan yang sebagian besar adalah warga Turki, juga sekaligus mengetengahkan bukti baru atas arogansi dan kebrutalan negeri Zionis yang selama ini selalu luput dari hukum internasional.
Kebuasan Zionis nampak dari aksi brutal yang sama sekali menyamakan antara menyerbu kapal perang dengan kapal penumpang biasa yang membawa warga sipil termasuk di dalamnya adalah kalangan petinggi/pemuka manca negara seperti anggota parlemen.
Mungkin para pemimpin Zionis beranggapan bahwa aksi brutal tersebut sama dengan aksi-aksi brutal dan holocaust sebelumnya atas warga Arab, dimana negeri Yahudi itu selalu bisa lolos dari jeratan hukum internasional karena memang pemerintah dunia Arab "tidak kuasa" menghadapi tekanan AS. Namun kali ini, masyarakat dunia nampaknya tidak akan tinggal diam.
Bagi warga Palestina dan umat Islam umumnya, menaruh harapan besar kepada Turki untuk tidak membiarkan darah aktivis kemanusiaan dalam armada FF sia-sia tanpa berhasil menyeret otak intelektual dan pelaku serangan di perairan internasional yang jelas-jelas melanggar hukum internasional. Atau minimal pengaruh dari gugurnya para syuhada kemanusiaan dan gaung hujatan masyarakat dunia adalah berakhirnya embargo zalim sepihak Zionis atas sekitar 1,8 juta warga Gaza yang hidup dalam penjara terbesar di dunia sepanjang sejarah.
Memang banyak publik dunia bahkan publik Arab sendiri sangat kecewa dengan respon “dingin” dunia Arab di tingkat resmi. Bahkan sidang darurat Liga Arab di tingkat Menlu setelah peristiwa tersebut tidak menunjukkan “nyali” seperti yang diperlihatkan Turki kepada negeri Zionis karena meskipun para menlu Liga Arab sepakat tentang perlunya mengakhiri embargo atas Gaza namun keputusan itu terkesan tidak jelas sebab tidak adanya mekanisme pencabutan embrago dimaksud.
Namun sikap "dingin" tersebut bagi umat Islam seharusnya tidak perlu disedihkan apalagi merasa kecewa berat sehingga menimbulkan keputusasaan. Justeru kenyataan ini membuktikan bahwa isu Palestina adalah isu umat Islam bahkan umat manusia secara keseluruhan bila melihat para pejuang kemanusiaan manca negara dalam armada tersebut lalu hujatan masyarakat dunia yang demikian meluas terutama di Eropa yang pernah terlibat langsung mendirikan negeri Zionis yang menjadi penyakit kanker yang bukan hanya di dunia Arab tapi bagi umat manusia sedunia.
Sedianya skenario Zionis Israel yang terkesan memaksakan menyerbu salah satu kapal armada FF itu, adalah ingin membuat masyarakat dunia jera sehingga tidak akan ada lagi usaha untuk menembus blokade ke Gaza setelah serbuan brutal itu. Itulah gambaran yang ada dalam benak para pemimpin Zionis sehingga berani menyerang kapal sipil yang berada di perairan internasional.
Para aktivitis sejak persiapan hingga berlayar menuju Gaza memang sudah menduga bahkan memastikan bahwa Angkatan Laut (AL) Israel pasti akan menghalanginya menuju ke Gaza begitu masuk dalam teritorial negeri Yahudi itu. Namun yang tidak terdetik dalam benak mereka adalah serbuan brutal yang menewaskan banyak aktivis tersebut.
Seperti biasa, banyak alasan yang dikemukakan para pemimpin Zionis diantara mempertahankan diri, karena aktivis bersenjata dan berusaha menyerang pasukan komando Israel atau sebagian aktivis adalah teroris. Tapi Menlu Turki, Ahmet Davutoglo secara telak membeberkan kedustaan tersebut di hadapan DK PBB (1/6) dengan mengatakan "kita telah bosan dengan dalih kedustaan Israel setiap melakukan kejahatan tertentu" sambil menyebut serbuan tersebut aksi bandit dan bajak laut.
Alhasil skenario Zionis tersebut yang sedianya bertujuan membuat jera para aktivis kemanusian manca negara dapat dikatakan gagal total. Bahkan beberapa hari setelahnya muncul penantang baru lewat kapal Rachel Corrie yang berlabuh dari Irlandia. Nama kapal tersebut diberikan dari nama aktivis wanita AS yang tewas dilindas bolduser Israel pada 23 Maret 2003 saat mempertahankan rumah warga Palestina yang akan dihancurkan oleh bolduser tersebut di kota Rafah, Palestina.
Memang armada kemanusiaan telah mengorbankan sedikitnya 9 aktivis yang sebagian besar dari Turki dan puluhan lainnya luka-luka. Tapi dibalik itu, Palestina berhasil meraih simpati bahkan bukan sebatas simpati dari 70 juta lebih rakyat Turki sebagai garda terdepan membela isu Palestina yang menjadi isu sentral dunia Islam tersebut setelah sekian lama negeri bekas pusat Kekhalifahan Otoman itu melihat sebelah mata Palestina akibat persekutuannya dengan Zionis Israel
Paling tidak pernyataan PM Turki, Recep Tayyip Erdogan setelah peristiwa berdarah itu mewakili aspirasi rakyat Turki. "Israel harus memahami bahwa memang hubungan kita kuat namun permusuhan kita juga kuat. Bila seluruh masyarakat dunia membelakangi (tidak peduli) Gaza maka kami bangsa Turki tidak akan membelakanginya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar